Bangku TVST
Bangku di ruang kuliah TVST. Kondisinya cukup memprihatinkan.
Foto lain dalam seri ini:
- http://wa2010.ee.itb.ac.id/content/konstruksi-bangku-tvst
- http://wa2010.ee.itb.ac.id/content/bangku-tvst-rusak
Takkan Kubiarkan …
Hari ini cuacanya bagus banget. Cerah. Nah, kalau begini hati menjadi gembira. Kalau cuaca mendung, suasana bisa jadi moody. Tidak bagus itu.
Berangkat ke kampus dengan hati cerah. Meskipun banyak pengendara yang agak ngaco, saya tetap ingin ceria. Silahkan ngaco. Monggo. Mangga.
I won’t let you ruin my day. Takkan kubiarkan kau merusak kegembiraan hari ini. hi hi hi. Selamat pagi …
Filed under: Curhat
Buta
Tanpa cahaya, sesehat apapun mata yang kita miliki, tetap saja yang tampak hanyalah kegelapan, hitam pekat. Cahaya merupakan pasangan mutlak dari mata agar dapat berfungsi secara sempurna. Tanpa itu keberadaan mata menjadi sia-sia dan tentunya ada sesuatu yang hilang jika dibandingkan dengan keadaan normal, bercahaya. Semua yang diperoleh melalui fungsi mata sempurna menjadi hilang; artinya, semua wujud benda, termasuk warna menjadi hilang dan yang tersisa hanyalah kegelapan. Bagi kita yang selama ini sangat mengandalkan keberadaan mata dan cahaya sungguh sulit membayangkan betapa beratnya kehilangan salah satu diantara itu. Mata dapat sakit, cahaya dapat padam. Namun, sungguh ajaib dan mengharukan manakala kita menyaksikan ada sahabat kita yang mengalami gangguan mata berupa kebutaan ternyata dapat menjalani hidup dengan bahagia. Bahkan tidak sedikit pula di antara mereka yang mempunyai prestasi luar biasa walaupun dalam kegelapan total (menurut ukuran manusia yang mempunyai mata yang berfungsi sempurna). Singkatnya, cahaya berfungsi mentransformasikan objek-objek di luar mata menjadi sesuatu yang dapat diproses lebih lanjut oleh mata. Informasi yang dapat diterima oleh mata selanjutnya diproses oleh neuron-neuron otak berupa suatu rekonstruksi atau transformasi balik sehingga objek-objek itu dapat dikenali sebagaimana adanya. Itulah sistem “penglihatan” pada manusia, ada sensor (mata) dan prosesornya (neuron-neuron tertentu dalam otak). Tentu itu semua merupakan suatu proses yang amat rumit. Ada suatu “sistem” lain di dalam tubuh manusia, yang mirip dengan sistem penglihatan, mempunyai perangkat sensor dan tentunya juga prosesornya. Agar sensor itu bekerja secara sempurna juga diperlukan sesuatu di luar dirinya, mirip dengan cahaya untuk kasus mata. Sistem itu sering disebut dengan nurani; sesuatu yang lebih abstrak dibanding “penglihatan” dengan sensor mata itu. Fungsinya hampir mirip dengan sistem “penglihatan”, yaitu juga untuk “melihat” atau tepatnya membedakan antara objek satu dengan objek lainnya. Nurani bukan untuk “melihat” objek-objek fisik namun objek-objek yang abstrak, “membedakan” antara benar dan salah, atau baik dan buruk. Sistem nurani ini juga dapat tidak berfungsi sama sekali alias mati. Namun berbeda halnya dengan sistem penglihatan fisik yang jika tidak berfungsi dengan baik pemiliknya akan merasakan efeknya secara seketika. Nurani yang tidak berfungsi bisa jadi tidak dirasakan oleh pemiliknya. Efek nurani yang rusak tidak mudah untuk dirasakan oleh pemiliknya; bahkan pada umumnya pemilik nurani yang rusak menolak untuk mengakuinya. Kerusakan fungsional nurani bisa disebabkan oleh karena kerusakan sensor, prosesor atau karena ketiadaan “cahaya” pasangan mutlak dari sensornya. Ada yang mengatakan bahwa sensor sistem nurani adalah hati, jantung, atau sesuatu di dalam dada; namun ada pula yang mengatakan sensor itu berupa keseluruhan panca indera; sedangkan prosesornya ada di dalam otak. Lalu pasangannya yang mirip “cahaya” bagi mata itu apa wujudnya? Fungsi “cahaya” dalam sistem nurani itu semestinya juga melakukan proses transformasi dan diujung sistem juga ada semacam proses rekonstruksi atau transformasi balik sehingga yang benar jelas tampak benar dan yang salah jelas tampak salah, tidak ada lagi keraguan atau kekaburan dalam membedakan kedua hal itu. Apakah yang harus ditransformasikan itu?
Mau?
Ini foto nasi goreng, tapi nasinya tidak terlalu terlihat. Yang terlihat malah acar dan sambelnya. he he he.
Dipotret dengan menggunakan Nokia N8.
Filed under: food, foto Tagged: food, foto, postaday2012
Kisah Angga Mencari Ayahnya di “Lembah Sukhoi” Gunung Salak
Peristiwa kecelakaan pesawat super jet Sukhoi yang menabrak tebing Gunung Salak masih mengharu biru masyarakat kita hari-hari ini. Hingga saat tulisan ini dibuat Tim Basarnas dibantu prajurit TNI dan para relawan masih kesulitan mengevakuasi jenazah para korban yang hancur bercerai berai. Medan yang sangat berat, tebing yang terjal hampir membentuk sudut 90 derajat dan lembah yang dalam membuat proses evakuasi menjadi sangat berat dan beresiko.
Diantara kisah sedih dan tragedi Sukhoi yang memilukan itu, ada sebuah kisah yang mengharukan. Ini adalah kisah tentang anak dari salah seorang korban pesawat –yang mudah-mudahan adalah anak yang shaleh– yang ikut mencari ayahnya bersama tim evakuasi. Dengan bermodalkan hubungan batin antara ayah dan anak, disertai Kuasa Tuhan dan doa anak yang shaleh, dia berhasil mendapat petunjuk keberadaan ayahnya di “lembah Sukhoi” dan memberikan informasi tersebut kepada Tim Evakuasi. Kisah ini saya rangkum dan kutip dari tiga berita daring di bawah ini:
1. Angga Dapat ‘Mukjizat’, Marinir Terbantu Temukan Lokasi Korban Sukhoi
2. Kisah Angga Berjuang Mendaki Gunung Salak Mencari Ayahnya
3. VIDEO: Kisah Angga Cari Ayah di Gunung Salak
~~~~~~~~~~~~~~~~
Namanya Angga Tirta (27), bukan seorang pendaki gunung. Tapi dengan tekad yang kuat dia bisa bertahan mendaki Gunung Salak bersama tim evakuasi korban Sukhoi Superjet 100. Ayah Angga, Aan Husdiana, adalah salah satu penumpang Sukhoi nahas itu.
Rabu (9/5) sore, Angga baru mendengar kabar Sukhoi yang ditumpangi ayahnya lost contact. Ayahnya, Aan, yang merupakan seorang pilot di Kartika Airlines menjadi salah satu penumpang pesawat. Kartika Airlines merupakan calon konsumen Sukhoi.
Rabu malam, Angga bersama kakak ayahnya dan keluarganya, total ada 6 orang, berangkat menuju Pos Cidahu. Keluarga besar Angga ingin tahu langsung kepastian nasib Sukhoi itu. Kamis (10/5) dini hari, dia bersama keluarganya tiba di Pos Cidahu. Di sini muncullah niat Angga untuk ikut mencari ayahnya. Pada mulanya keinginan Angga itu ditolak, Angga tidak diperbolehkan ikut mencari. Tapi dengan tekadnya yang membaja dia membujuk Tim Evakuasi agar diperbolehkan ikut. Dia meyampaikan kepada Komandan bahwa feeling-nya mengatakan ayahnya ada di lereng.
Kamis pagi, Angga bersama prajurit TNI AD ikut mendaki menuju Puncak Gunung Salak. Dia mendengar kabar, untuk menuju lokasi, perlu perjalanan sekitar 2-3 jam. Angga membulatkan tekad untuk ikut. Angga bergerak bersama Tim Marinir, melakukan pencarian lokasi jatuhnya Sukhoi. Angga ingin ikut agar dia dapat mengetahui kondisi Sukhoi dan ayahnya sebenar-benarnya. Tim Marinir kagum dengan kesungguhan Angga, walau tanpa bekal dia bersungguh-sungguh mencari lokasi jatuhnya Sukhoi dan mencari jenazah ayahnya.
“Saya tidak membawa apa-apa, hanya jaket, dan sebotol air mineral,” terang Angga.
Perjalanan mendaki Gunung Salak menempuh medan yang berat. Angga menahan diri untuk tidak meminum air mineral yang dia bawa. Dia berjaga-jaga untuk perjalanan panjang.
“Ternyata kalau saya minum air, saya bisa keram. Itu aturan pendaki gunung,” imbuhnya.
Tanpa bekal logistik yang cukup, Angga berjalan menuju lokasi di puncak. Jalur yang belum dibuka membuat perjalanan menjadi lama. Angga mengaku selalu teringat bau-bauan ayahnya sehingga dia merasa kuat. Dalam pendakian itu, dia kehilangan sepatunya yang jebol.
“Dia kasih petunjuknya lewat bau jengkol, bau petai (makanan favorit ayah Angga yang mengarahkan ke lokasi penemuan, red)”, ucapnya.
Yang menarik, sepanjang perjalanan, Angga tidak melupakan melakukan ibadah shalat. “Sepanjang perjalanan, Angga rajin shalat. Usai shalat dia berdoa meminta petunjuk kepada Yang Kuasa,” kata komandan Tim Marinir, Letkol Oni Junianto.
Angga bersyukur dalam perjalanan melelahkan itu, dirinya mendapat kemudahan-kemudahan. “Alhamdulillah, saat saya butuh air, menemukan mata air. Saya sempat makan daun pakis, sebelum akhirnya bertemu Tim Marinir yang memberi ransum,” imbuh Angga.
Kamis malam, Angga bermalam di kawasan Puncak Gunung Salak. Sebelumnya di perjalanan bertemu Tim Marinir yang memberikan bantuan logistik. Angga tidur beralaskan kantung jenazah yang dibawa TNI.
Nah, keajaiban datang. Usai salat Subuh pada Jumat (11/5) pagi, Angga mengaku ditemui ayahnya. Saat itu, ayahnya memberitahu supaya dirinya tidak usah datang ke lokasi jatuhnya Sukhoi karena daerah itu berbahaya. Petunjuk itu diperoleh Angga saat tim Marinir sudah berada di Puncak Gunung Salak.
Angga pun, lanjut Oni, dalam doanya itu sempat bertanya di mana ayahnya berada. Dia diberi petunjuk bahwa ayahnya berada di lereng gunung. Angga juga diminta pulang. Mendapat petunjuk seperti itu, Angga lalu memberi kabar kepada tim Marinir.
“Kami kemudian turun ke lereng”, jelas Oni.
Tebing yang curam inilah yang ditabrak oleh pesawat Sukhoi sehingga meledak dan hancur berkeping-keping. Di lereng tebing itu ditemukan jenazah korban pesawat termasuk SIM ayahnya Angga (Sumber foto: http://www.tribunnews.com/2012/05/10/lokasi-jatuhnya-sukhoi-ditemukan-mayor-penerbang-fahlevi)
Jumat pukul 07.20 WIB, Tim Marinir turun ke jurang. Angga sempat meminta ikut turun, namun Tim Marinir meminta dia menunggu di atas. Untuk turun ke jurang membutuhkan tali. Dan benar, ternyata sejumlah korban Sukhoi ada di jurang itu. Tim Marinir juga menemukan SIM ayah Angga atas nama Aan Husdiana.
“Setelah SIM ditemukan dan diberikan kepada Angga, dia sempat histeris. Namun akhirnya Angga bisa menerima dan dia pulang bersama tim logistik kami,” tutur Oni.
“Saya sudah cukup puas dengan itu. Walau sebenarnya saya ingin menemukan cincin atau benda yang lain. Tapi itu sudah cukup,” imbuhnya.
Jumat sore, setelah melihat tim Marinir membawa SIM ayahnya, Angga akhirnya memutuskan turun bersama tim Marinir. Angga mengucapkan terima kasih kepada Tim TNI AD dan Tim Marinir, relawan serta Basarnas yang memberi bantuan.
“Sekarang kami berharap identifikasi bisa cepat dan akurat,” tutur Angga, putra sulung almarhum Aan.
Simak penuturan Angga pada video di tautan ini.
~~~~~~~~~~~~~~
Setelah membaca ini, saya terhenyak. Mungkin inilah petunjuk atau ilham yang diberikan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya. Adapun kemudahan yang diperoleh Angga seperti menemukan mata air ketika Tim Evakuasi kehausan dan tidak menemukan air, itu adalah keajaiban yang diturunkan-Nya. Pada saat-saat yang sulit Allah SWT akan selalu datang menolong. Semoga kisah yang membawa hikmah ini dapat memperteguh iman kita kepada Allah SWT.
Keputusan Yang Membingungan: Stasiun Kereta Api
Hari Minggu kemarin saya ke stasiun kereta api Bandung. Saya mau masuk ke dalam stasiun dengan membeli karcis peron. Ternyata sekarang karcis peron sudah tidak dijual lagi. Saya tidak tahu alasannya. Mungkin untuk membatasi orang yang tidak perlu masuk ke dalam? Tapi bagaimana dengan orang yang ingin mengantar barang? Ya harus minta bantuan porter.
Cara lain untuk masuk ke dalam adalah dengan membeli karcis kereta murah, KRD? Karcis yang paling murah adalah Rp. 1000,-. Ini yang dilakukan oleh orang-orang. Saya tidak melakukannya, tetapi nanti jika dibutuhkan lagi mungkin itu yang akan saya lakukan.
Jeleknya hal ini adalah PT KAI akan mendapatkan informasi yang salah tentang jumlah penumpang kereta apinya. Ada terlalu banyak karcis yang tidak digunakan karena hanya digunakan untuk masuk ke stasiun saja. Hmm….
Filed under: Curhat Tagged: postaday2012
Kaya
Kalau anda belum punya tujuan hidup, terimalah saran saya: jadilah orang kaya. Habiskanlah sisa hidup anda membangun kekayaan.
Banyak sekali masalah di dunia ini muncul karena kita miskin. Coba lihat: masalah harga BBM muncul karena kita miskin tidak bisa beli BBM. Ribut soal sekolah, umumnya karena sekolah bagus menuntut biaya tinggi. Kerusuhan karena golongan miskin merasa tidak punya harapan. Pencurian terjadi karena uang tidak cukup. Rampok juga begitu. Pegawai korupsi karena tidak percaya cara halal bisa mencukupkan hidupnya. Bahkan bangsa-bangsa pergi berperang karena berebut sumber daya.
Pendeknya, kemiskinan adalah sumber masalah besar. Dan hidup anda akan sengsara kalau anda miskin. Kalau anda menjadi tua tanpa kekayaan, maka anda akan disepelekan orang. Dianggap beban.
Jadi percaya sama saya: jadilah kaya. Kalau tujuan hidup belum punya, maka jadilah orang kaya. Habiskanlah sisa hidup anda membangun kekayaan.
Tapi sebelum jadi salah, kekayaan yang saya maksud adalah kekayaan sejati. Kekayaan nilai yang luhur. Kaya harta jelas membantu, tapi kejarlah kekayaan yang lengkap.
Apa itu kekayaan yang lengkap? Ada 2 x 3 = 6 jenis.
Pertama, saya membagi kekayaan ke dalam dua kelompok: (A) Kekayaan di dalam hidup dan (B) kekayaan di luar hidup manusia.
Kedua, saya membagi kekayaan dalam tiga kategori: (1) kekayaan individual, (2) kekayaan platform, dan (3) kekayaan daya dukung.
Total ada 2×3 = 6 jenis.
Saya uraikan satu persatu.
- Jenis (A.1): Diri anda sendiri (dan pasangan hidup anda). Kekayaan anda terbesar adalah diri anda. Kemampuan anda. Kesehatan anda. Kebijaksanaan anda. Kompetensi diri. Kemampuan mengasihi. Hobby. Skill. Anda harus mengembangkan diri anda sebagai wujud membangun kekayaan hidup.
- Jenis (A.2): Keluarga, Teman, rekan kerja. Ini adalah kekayaan anda karena harta jenis ini membantu anda menaikkan kekayaan diri. Penting anda memperkaya mereka ini, dan anda bisa menghitung kekayaan mereka sebagai kekayaan anda.
- Jenis (A.3): Masyarakat luas. Ini sumber kekayaan anda. Anda peroleh kekayaan dari masyarakat. Jadi kekayaan masyarakat adalah kekayaan anda juga. Maka anda perlu bekerja memperkaya masyarakat yang mendukung hidup anda. Anda berjuang untuk membuat masyarakat lebih baik.
- Jenis (B.1): Benda berharga, uang, emas, berlian, dan benda-benda yang anda nikmati. Ini kekayaan yang bisa anda pertukarkan dengan orang lain. Menumpuk harta jenis ini akan membuat anda kaya.
- Jenis (B.2): Perusahaan, pabrik, organisasi, serta alat penghasil materi berharga juga merupakan harta anda. Perbanyak platform pencetak kekayaan sepeerti ini, maka anda tidak akan kekurangan.
- Jenis (B.3): Lingkungan hidup dan pemukiman adalah kekayaan anda. Rumah bagus, lengkap dengan taman tentu menyenangkan untuk dihuni. Udara bersih. Asri. Sehat. Pemukiman yang menyenangkan untuk semua orang. tu adalah kekayaan.
Jadi saya sudah menginventarisasi paling tidak enam jenis kekayaan. Kalau anda mendedikasikan hidup mengembangkan keenam kekayaan, maka hidup anda akan benar-benar kaya. Dan anda akan meninggalkan dunia ini dengan hati yang puas. Karena anda sudah membuat dunia lebih kaya.
Filed under: Life
Direktur Baru PT Telkom dari IF-ITB
Ada kabar menggembirakan bagi alumni Informatika ITB minggu lalu. Manajemen PT Telkom Indonesia baru saja berganti wajah. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) BUMN tersebut memutuskan pergantian direksi. Direktur Utamanya adalah Arief Yahya (Teknik Sipil Teknik Elektro ITB, angkatan berapa saya tidak tahu). Anda bisa membaca beritanya di sini: Arief Yahya Pimpin Telkom.
Salah satu direksi yang baru adalah Rizkan Chandra. Rizkan menjabat Direktut Network and Solution. Dia dulu adalah adik kelas saya di IF-ITB Angkatan 1987. Meski tidak mengenal Rizkan terlalu pribadi, yang saya tahu dia memang cerdas, hal itu terlihat dari cara bicaranya, selain itu juga humoris. Saya dengar dia mengambil master di bidang telekomunikasi di NUS Singapura. Sebelumnya Rizkan menjabat Dirut di Telkom Sigma, anak perusahaan PT Telkom. Selamat buat Rizkan Chandra, semoga anda dapat membawa PT Telkom Indonesia menjadi perusahaan yang lebih maju. Sebagai alumni Informatika ITB tentu kami merasa bangga ada wakil almamater kami di perusahaan telekomunikasi terbesar di negeri ini. Selangkah lagi menjadi Dirut PT Telkom.
Tentu saja saya merasa surprise, sebab pelan-pelan alumni Informatika ITB sudah mulai menduduki jabatan direksi di perusahan besar seperti PT Telkom. Sebelumnya Irfan Setiaputra dari IF angkatan 1981, yang dikenal dengan panggilan Ayak, ditunjuk menjadi Dirut PT INTI di Bandung. Angkatan 1981 adalah angkatan pertama di IF ITB dan Ayak adalah Kahim pertama di HMIF ITB, sekaligus pendiri himpunan mahasiswa Informatika itu. Setahu saya sebelum di PT INTI Pak Irfan menjadi Direktur Manager Cisco Indonesia di Jakarta.
Sudah 30 tahun Informatika ITB berdiri, namun baru sedikit yang mencapai posisi yang penting di Pemerintahan dan BUMN. Setahu saya baru dua orang itu alumni IF ITB yang menjabat posisi puncak di BUMN. Sedikit sekali ya. Kalau menjadi direktur di perusahaan swasta pasti banyak, minimal direktur perusahaan start up company, he..he.
Memang baik menjadi orang penting, tapi jauh lebih penting menjadi orang baik (quote Ebet Kadarusman).
Tiga Juta Kunjungan
Baru sadar bahwa blog ini sudah mencapai 3 juta kunjungan. Horeee … Gambar di kiri adalah snapshot dari bagian blog yang menunjukkan statistiknya. Sebagai catatan jumlah tulisan blog ini pada saat ini adalah 3768.
Ini sebetulnya hasil ngeblog selama 10 tahun. Jadi memang hasil ini bukan hasil yang instan. (Tidak ada yang instan di dunia ini. Kalau ada, hasilnya tidak sebagus yang natural.)
Saya tidak tahu algoritma yang digunakan oleh statistik ini. Sebagai contoh, apakah pengguna yang membaca melalui RSS reader atau email termasuk yang menambahkan angka counter? Rasanya tidak. Setahu saya counter bertambah jika ada yang mengunjungi web. Kalau demikian adanya, berarti jumlah kunjungan sesungguhnya adalah lebih dari tiga juga. But, who’s counting I am just so happy.
Filed under: Blogroll, Menulis, Teknologi Informasi, TI Tagged: Menulis, postaday2012, Teknologi Informasi
Mengunjungi National Museum of Singapore
Minggu lalu jalan-jalan ke National Museum of Singapore. Acaranya dadakan saja tanpa direncana. Kami datang pada pagi hari sehingga masih sepi karena baru buka. Lagian orang-orang mungkin lebih memilih shopping dibandingkan jalan-jalan ke Singapura ya?
Ada banyak hal yang menarik. Yang pertama adalah ada pameran tentang 10 orang yang penting pada 10 tahun pertama berdirinya Singapura. Mungkin judulnya adalah “10 persons that shaped Singapore in the first 10 years”.
Ini adalah cara mereka mencoba untuk mengingatkan tentang sejarah mereka. Sangat penting.
Di musium itu ada peragaan yang lain, tapi membayar. Kami pilih yang gratisan saja. he he he. Akhirnya saya ke bagian belakang dan di sana ada hall dengan dinding hitam seperti batu atau kayu yang tinggi. Lihat foto di bawah ini, dinding di bagian kanan.
Ternyata dinding itu bukan sekedar dinding. Setelah saya dekati ternyata dia berlubang. Di dalamnya entah ada monitor atau LED, tetapi yang pasti dia menampilkan image dari orang yang mendekatinya (diambil dari dbelakang). Sebagai contoh, ini adalah foto punggung saya.
Kamera berada di seberang dinding (sehingga ketika saya menghadap dinding, punggung saya yang terlihat). Titik (kotak) hitam di bagian tengah (di pilar dinding) di foto berikut ini adalah tempat kameranya.
Menarik juga. Hmmm …
Filed under: foto Tagged: foto, postaday2012, travelling
Kekerasan dan Irshad Manji
Baru-baru ini kedatangan seorang wanita yang disebut tokoh feminis menimbulkan kontroversi di negara kita. Dialah Irshad Manji. Dia ditolak di beberapa tempat, beberapa acara diskusinya dibatalkan, termasuk di Kantor Muhammadiyah dan yang terakhir di UGM. Tragisnya lagi acara diskusi dengan Irshad Manji di LKIS Yogyakarta diserbu sebuah Ormas dan beberapa orang peserta diskusi luka-luka.
Saya tidak terlalu tahu Irshad Manji, yang saya tahu dia seorang lesbian atau penyuka sesama jenis. Dia menjadi populer di kalangan liberal (kalau di Indonesia namanya JIL) karena pemikirannya dianggap sebuah ijtihad atau membawa “pembaruan” tentang beberapa ajaran Islam. Pemikiran Manji begitu disanjung dan dibela oleh orang-orang JIL, Manji dianggap sebagai seorang mujtahid atau pembaru yang membawa ide pencerahan.
Jujur saya tidak pernah membaca buku-buku Manji itu, tetapi berdasarkan yang saya baca dari beberapa sumber di Internet, buku Manji seperti The Trouble with Islam berisi curhat dan perjalanan hidupnya yang pahit, termasuk tentang masa kecilnya yang pernah mendapat kekerasan dari ayahnya, plus interaksinya dengan beberapa orang pernah dizalimi atas nama Islam. Satu bukunya lagi, Allah, Liberty and Love berisi korespondensinya dengan orang-orang di berbagai belahan dunia yang ingin mendapat dukungan semangat dari Manji (baca tulisan ini: Transformasi Akademik Seperti Apa yang Diharapkan dari Irshad Manji? dan yang ini: Poor Irshad Manji).
Isi buku Manji juga banyak berisi kata-kata yang kasar dan tidak pantas. Secara tidak langsung pada buku yang terakhir dia mempromosikan tentang gagasan lesbian dan pemahamannya tentang Nabi Luth. Dikutip dari sini: “Nah sekali lagi, patahkan keyakinan dengan ayat-ayat Al-Quran sederhana yang mendorongmu untuk tidak terlalu berlebihan dengan ayat-ayat yang tersirat. Cerita Sodom dan Gomorah—kisah Nabi Luth dalam Islam—tergolong tersirat (ambigu). Kau merasa yakin kalau surat ini mengenai homoseksual, tapi sebetulnya bisa saja mengangkat perkosaan pria “lurus” oleh pria “lurus” lainnya sebagai penggambaran atas kekuasaan dan kontrol. Tuhan menghukum kaum Nabi Luth karena memotong jalur perdagangan, menumpuk kekayaan, dan berlaku tidak hormat terhadap orang luar. Perkosaan antara pria bisa jadi merupakan dosa disengaja (the sin of choice) untuk menimbulkan ketakutan di kalangan pengembara. Aku tidak tahu apakah aku benar. Namun demikian, menurut Al-Quran, kaupun tidak bisa yakin apakah kau benar. Nah, kalau kau masih terobsesi untuk mengutuk homoseksual, bukankah kau justru yang mempunyai agenda gay? Dan sementara kau begitu, kau tidak menjawab pertanyaan awalku: “Ada apa dengan hatimu yang sesat?”
Dari sini saya bisa menilai bahwa penafsiran Irshad Manji tentang ajaran Islam dan Al-Quran sangat keterlaluan. Beberapa pemikirannya lainnya yang kebablasan dapat anda baca pada tulisan ini: http://filsafat.kompasiana.com/2012/05/12/irshad-manji-hasil-kebebasan-pemikiran-yang-kebablasan/.
Apakah pantas pula dia disebut sebagai seorang pemikir atau pembaru Islam sementara dia melakukan maksiat dengan menjadi seorang lesbian yang melakukan hubungan sesama jenis. Larangan homoseksual sudah ditegaskan di dalam Surat Al-A’raaf ayat 80-81:
“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka:` Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” (QS. Al A’raaf Ayat 80).
Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.(QS. Al A’raaf Ayat 81).
Saya tidak setuju kekerasan, tetapi saya bisa mengerti mengapa ada sekelompok orang yang marah dengan isi buku Manji lalu ingin mengusir Manji bahkan sampai melakukan kekerasan kepadanya. Itu karena Irshad Manji memutarbalikkan penafsiran Al-Quran, menghina Rasul, dan menghina ajaran agama. Orang Islam pasti akan marah jika hal itu dilakukan Manji, karena yang disebarkannya adalah pemikiran yang kebablasan yang dan merusak iman. Bukan berarti berbeda pendapat tidak boleh, orang boleh berbeda pendapat tetapi jangan memutarbalik atau mengacaukan tafsir. Itu pulalah yang dilakukan oleh orang-orang JIL yang menafsirkan ajaran agama berdasarkan hawa nafsunya.
Seorang rekan di sebuah milis menulis:
Kekerasan itu memang memprihatinkan. Ketika Salman Rushdie akan ceramah disuatu tempat di Montreal, juga hampir terjadi kekerasan, bahkan batal, tetapi ada juga yang bisa berjalan ditempat lain.
Disisi lain, banyak dialog antar agama, bahkan dengan pandangan yang sangat ekstrim tapi bisa berjalan dg lancar. Kenapa?
Yang bisa saya tangkap adalah, orang boleh beda pendapat, tetapi jangan memutar balik, mengacaukan tafsir, apalagi meng-asor-kan. Orang akan marah kalau itu yang dilakukan, apalagi jika dilakukan oleh orang yang dianggap punya pengaruh (oleh presenter, bukan oleh audien).
Bahkan tafsir (Al Quran) pun boleh beda. Cuma perbedaannya, pemuka yang menawarkan perbedaan tafsir tanpa mengakibatkan ada rasa permusuhan bagi lawan pendengar, adalah yang disampaikan dengan dalih-dalih kuat, ada dasarnya (misalnya dari berbagai hadist dsb).
Saya tidak mendukung kekerasan, tetapi bisa mengerti kenapa orang bisa marah kalau membaca buku The Trouble with Islam nya Irshad Manji. Karena cara tafsirnya tidak memenuhi kriteria yg saya sampaikan tadi.
Ya itulah Irshad dan Salman, siapa menabur angin, menuai badai.
Maka, kontroversi dan riuh rendah media mainstream yang mengekspos berita reaksi penolakan atas Manji mungkin sangat dinikmati oleh pengusung Manji, yaitu orang-orang JIL. Itu berarti donor dari luar negeri untuk LSM mereka akan semakin deras mengalir sebab pendonor melihat orang-orang JIL telah “berkeringat” melawan kaum fundamentalis yang menolak Manji.
Kehilangan Kamera DSLR
Baru bisa nulis sekarang bahwa saya kehilangan kamera Nikon D3100. Ini terjadi minggu lalu waktu di Singapura.
Ceritanya kami mau pergi ke Marina Bay Sands setelah makan malam. Kami menuju stasiun MRT Bras Basah, yang terdekat dari tempat makan. Di stasiun tersebut ternyata sepi. Hanya kami berempat. Menunggu datangnya MRT circle line yang agak lama (mungkin karena sudah malam), saya merasa perlu memakai jaket. Saya letakkan ransel dan kamera di dekat kursi duduk. Saya ambil jaket. Kereta datang. Kami bergegas naik ke MRT.
Dua stasiun terlewati baru saya sadar bahwa kamera tertinggal. Maka kami turun di stasiun kedua. Pindah ke arah kembali dan menunggu MRT. Dalam waktu 4 menit datang MRT-nya. Menaiki MRT dengan waswas. Sampai di stasiun Bras Basah saya bergegas ke tempat duduk tadi yang berada di pojok. Tidak ada apa-apa.
Kami bergegas ke tempat operator yang agak jauh di atas. Saya merasa itu perjalanan escalator yang paling panjang bagi saya. Sesampainya di counter operator kami menceritakan kejadiannya. Sang penjaga meminta nama dan kontak kami untuk pemberitahuan jika mereka menemukan. Heran juga saya bahwa mereka tidak bisa langsung ngecek ke CCTV yang ada di sana. Bukankah semua bagian stasiun dimonitor oleh CCTV.
Lunglai. Kami putuskan untuk kembali ke hotel saja. Lemes … Nasib …
Filed under: Curhat Tagged: Curhat, postaday2012
Al-’adalah – konstruksi ulang
konstruksi ulang Al-’adalah dimulai, mohon maaf bagi yang sedang membaca dan yang lainnya.
Foto-foto
Berikut ini adalah beberapa foto terbaru saya. Oleh-oleh dari Singapura. Sekarang baru sempat saya upload.
[arrived too early. 1/2 of brain is still in black and white]
[mint: museum of toys (singapore)]
Filed under: foto Tagged: foto, postaday2012
Dari Sup*a F*t ke Spa*y
Dua minggu lalu saya menjual sepeda motor yang selama ini menemani saya ke mana-mana di Bandung ini. Motor Sup*a F*t keluaran Hond* itu saya beli pada akhir tahun 2005. Motor ini sangat bersejarah bagi saya pribadi, karena ia telah mengantarkan saya ke kampus sehingga tidak telat mengajar. Ia juga telah mengantarkan anak-anak saya ke sekolah, ke dokter bilamana mereka sakit, jalan-jalan keliling kota, ke swalayan, ke pasar, mengantar istri ke resepsi pernikahan, dan sebagainya. Yang paling berkesan adalah ia telah mengantarkan ASI ke rumah sakit ketika anak saya yang bungsu masuk inkubator karena dia lahir dalam keadaan kuning. Malam-malam jam 1 dinihari saya tembus kegelapan jalan menuju rumah sakit mengantarkan susu ASI itu buatnya ditemani Sup*a F*t yang setia.
Sekarang sudah waktunya saya ganti itu sepeda motor karena sudah butut. Ada perasaan sedih juga ketika menjualnya, namun saya tidak ingin larut dalam kesedihan. Dunia ini fana dan kita tidak perlu mengekalkan kefanaan. Yang lama akan pergi dan yang baru akan menggantikan, itulah sunnatullah yang sudah menjadi keniscayaan hidup. Sebelum menjualnya, sebagai kenang-kenangan, satu hari ketika motor tersebut belum berpindah tangan, saya foto ia di tempat parkir di dalam kampus.
Sup*a F*t-ku yang telah berjasa
Sebagai penggantinya saya beli sebuah motor baru keluaran Hond* juga yaitu Spa*y Helm in. Ini motor matik yang tidak perlu kopling, cukup permainan gas dan rem saja. Yang membuat saya jatuh hati dengan Sp*y ini karena dia mempunyai bagasai yang sangat lapang. Satu helm bisa masuk ke dalamnya, jadi kalau hujan dan motor diparkir di luar maka helm tidak basah. Saya bisa menyimpan buku dan barang-barang lain di dalam bagasi yang lapang itu.
Hond* Spa*y yang menawan dan lapang
Kapasitas mesinnya 108 cc, beda 8 cc dibandingikan motor yang lama yang hanya 100 cc. Tangki bensinnya bisa menampung 5,5 liter bensin. Tarikannya mantap dan suara mesinnya halus (mungkin karena masih baru kali ya). Beratnya lumayan, tetapi bodinya mantap dan menawan. Teknologinya full injection lagi (motor yang lama masih teknologi karburator). Menariknya lagi, jika sudah distarter maka lampu depan akan otomatis menyala, jadi saya tidak perlu khawatir lagi kena tilang karena luapa menyalakan lampu depan motor (seperti pengalaman saya ditilang tiga minggu lalu).
Hanya saja saya masih penasaran dengan km per liternya. Saya hanya bisa maksimal menempuh 40 km per liter bensin. Apakah itu boros? Padahal teknologinya full injection, seharusnya lebih irit dibandingkan motor biasa, bukan? Padahal lagi saya hanya tancap gas dengan kecepatan 20 hingga 30 km/jam. Seharusnya tidak boros bensin, bukan? Saya tidak berani ngebut lebih dari 30 km/jam. Takut tidak terkendali. Bayangan wajah anak istri di rumah lebih penting ketimbang harus buru-buru dengan mengeber lebih dari 40 km/jam. Biar lambat yang penting selamat.
Kata teknisi di Hond*, seharusnya motor matik saya itu bisa mencapai 50 km hingga 60 km per liter bensin, tetapi mungkin karena belum diservis pertama sehingga kocoran injeksinya masih besar, masih setelan pabrik ceunah. Nanti kalau sudah diservis pertama kali bisa diatur oleh teknisi di AHA** supaya bisa mencapai lebih dari 40 km per liter. Iya deh, nanti kalau odometernya sudah mencapai 500 km baru saya servis.
Sederhana Itu Pilihan
Banyak orang yang menyangka bahwa hidup sederhana itu karena terpaksa. Saya juga dulu mengira demikian. Ya karena tidak punya uang, terpaksa hidup sederhana. Ternyata sebetulnya banyak orang yang hidup sederhana karena pilihan. Mereka dapat saja memamerkan kekayaan mereka, tetapi mereka memilih untuk tidak.
Pada mulanya saya membaca beberapa buku tentang wealth management. Kemudian saya menemukan buku tentang orang kaya yang kelihatannya biasa saja, millionaires next door. Mereka terlihat seperti biasa saja karena memang mereka biasa saja. Cara hidup mereka memang sederhana. Bukan pelit lho, tetapi sederhana. Tujuannya bukan untuk menjadi kaya, tetapi karena memang mereka ingin hidup sederhana. Kaya itu hanya efek sampingan. Bukan tujuan.
Baru-baru ini saya melihat acara di TV tentang kehidupan di India. Ada seorang pengusaha baju yang terlihat biasa-biasa saja tetapi sesungguhnya dia luar biasa. Yang dia lakukan adalah menyumbang. Dia menargetkan satu tahun harus sekian juta (lupa saya, satuannya apakah dolar ataukah Rupee) yang dia sumbangkan! Target dia bukanlah untuk mendapatkan rumah besar atau mobil mewah atau hidup secara flamboyan, tetapi menghidupi orang banyak dan memberikan sumbangan. Now that’s something special. Dia hidup sederhana karena pilihan.
Cerita di atas juga bagi saya merupakan sebuah konfirmasi bahwa masih ada orang yang memilih hidup sederhana saat ini. Jadi kita tidak perlu membayangkan tokoh-tokoh seperti Mahatma Gandhi atau para sahabat Rasulullah (saw) yang hidup di jaman dahulu (sehingga kita punya alasan untuk tidak melakukan karena itu jaman dulu). Kita dapat melihatnya di jaman sekarang.
Di Indonesia ini sayangnya yang digembar-gemborkan di media adalah kehidupan glamour. Itulah sebabnya saya tidak suka membaca media Indonesia. Sedikit sekali yang bercerita tentang ksederhanaan. Saya yakin di Indonesia banyak orang yang hidup sederhana karena pilihan, bukan karena keterpaksaan.
Siapkah Anda memilih untuk hidup sederhana?
Filed under: Curhat Tagged: postaday2012
Ilmu App Store
Minggu lalu saya ditanya orang, “ilmu apa yang dibutuhkan untuk membuat App Store?”. Ini membuat saya jadi mikir, apa ya? Mengapa saat ini baru ada beberapa application store? Apakah memang masa depan dari penjualan aplikasi adalah dengan menggunakan app store (bukan toko fisik)?
Pertanyaan-pertanyaan ini muncul dalam rangka untuk membuat rencana pendidikan di bidang teknologi informasi. Jika tahun-tahun ke depan app store ini memang penting, mestinya perlu disiapkan kemampuan untuk membuat atau mengembangkannya. Apakah (dasar-dasar) ilmu-ilmu yang sudah diajarkan sekarang sebetulnya sudah cukup karena sebetulnya app store itu hanya sekedar aplikasi saja, ataukah ada ilmu mendasar lainnya yang harus diajarkan?
Kembali ke pertanyaan awal, “ilmu-ilmu apa yang dibutuhkan untuk membuat app store”?
Saya ingin membuat sebuah app store yang isinya khusus untuk pendidikan.
Filed under: Pendidikan, Teknologi Informasi, TI Tagged: Pendidikan, postaday2012, Teknologi Informasi
Al-’adalah
mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan kami dalam membuat buku ini.
penggantian Al-’adalah For Teens akan dilaksanakan tanggal 10 mei 2012, pukul 22:00
Kantin Salman yang Tetap Lestari
Hampir semua mahasiswa ITB zaman dulu (1970-an) hingga sekarang tahu tempat makan yang bersih, murah, dan variatif di sekitar kampus, yaitu Kantin Salman. Kantin yang berada di lingkungan Masjid Salman ITB ini memang menjadi pilihan banyak mahasiswa ketika sarapan, makan siang, dan sekali-sekali makan malam. Kantin ini selalu ramai pada puncak jam makan siang (12.00 – 14.00).
Dulu ketika saya kuliah belum banyak kantin di dalam kampus. Hanya ada kantin Kokesma di gedung RSG yang sekarang telah dihancurkan dan bangun menjadi gedung Student Center, kemudian kantin GKU Barat dengan ibu kasir yang terkenal amat galak itu (he..he, saya masih ingat dulu pernah dibentak oleh ibu galak itu yang kemudian saya tahu dia adalah istri dosen Teknik Fisika. Gimana suaminya bisa tahan ya dengan perempuan galak itu, he..hee.). Kantin Borju di dasar LabTek V baru ada pada tahun 1996 (disebut borju karena dulu makanannya agak aneh dan mahal gitu). Kemudian bermunculan Kantin Gedung Bengkok dan kafe di Student Center sekarang. Di luar kampus juga muncul kantin pujasera yang berjejer di Jalan Gelapnyawang, kantin pujasera itu baru ada pada tahun 2000-an setelah para pedagang kaki lima di Jalan Ganesha direlokasikan ke sana. Ini belum termasuk kantin-kantin kaki lima di belakang kampus sekitar Jalan Tamansari dan Dayang Sumbi.
Untuk urusan makan memang ITB tidak menyediakan kantin yang cukup banyak, nyaman, murah dan sehat. Padahal setiap hari ada sekitar 15.000 orang lebih di dalam kampus yang perlu mencari makan siang. Kantin Salman adalah alternatif bagi mahasiswa yang ingin mencari makan siang yang murah, sehat, dan banyak variasinya, selain itu swalayan alias ambil sendiri menunya sesuai selera baru kemudian bayar. Memang perlu berjalan kaki ke luar kampus menuju Masjid Salman, tetapi sekalian shalat Dhuhur di masjid tentu tidak masalah.
Kantin Salman adalah tempat “pelarian” saya dulu untuk sarapan dan makan siang. Dengan uang kiriman yang pas-pasan dari orangtua, makan di kantin ini adalah alternatif yang tepat. Mulanya saya kurang sreg dengan menu masakan di sana, agak jawa dan nyunda gitu. Maklum selera makan saya agak payah bilamana tidak ketemu masakan Minang. Tapi, lama-kelamaan akhirnya bisa juga saya menyesuaikan asalkan masakannya tidak yang manis. Kalau di rumah makan Padang terus-terusan bisa tekor saya karena agak mahal untuk ukuran kantong mahasiswa seperti saya.
Bila saya mau kuliah dan tidak sempat sarapan di sekitar kosan, maka saya makan di kantin ini dengan menu favorit adalah telur dadar gulung. Saya sarapan sekitar jam 9 pagi gitu, seusai jam kuliah pertama. Kalau makan siang saya suka pecelnya, pecel khas Jawa yang enak dan pedas, sedangkan untuk lauknya favorit saya adalah ayam goreng tepung dan tempe goreng garing.
Meskipun saya masih tetap di ITB, saya sudah sangat jarang saya makan di kantin Salman. Apalagi sejak saya menikah, lebih banyak saya membawa bekal makan siang sendiri dari rumah. Kadang-kadang saya dapat makan karena ada rapat atau sidang tugas akhir di kampus, oleh karena itu saya jarang makan di luar. Kalau tidak dapat makan siang, biasanya saya menyuruh pramukantor membeli nasi kapau (masih Padang juga, he..he) atau mi goreng aceh di jalan Dago.
Sekali-sekali saja saya masih makan di Kantin Salman. Mbak-mbak pelayannya ada yang masih saya kenal bertahan hingga sekarang. Minggu lalu saya membeli makan siang di sana. Saya sempat foto-foto suasana dan menu masakannya seperti di bawah ini:
Pembeli memilih sendiri makanannya (self service). Jalur untuk pria dan wanita dipisah sesuai syariat agama.
Aneka ragam masakan yang bisa dipilih sendiri sesuka hati
Aneka minuman mulai dari yoghurt, cendol, kacang hijau, teh manis, dll. Silakan tambahkan es batunya sendiri.
Puluhan jenis kue basah yang menggoda selera
Silakan ambil nasi sendiri, banyak atau sedikit. Jika anda punya perut dengan porsi besar, anda bisa mengambil nasi dengan porsi banyak. Harganya dianggap satu porsi.
Ruang makan. Tidak terlalu ramai, maklum saya ke sana jam 10 pagi.
Kantin Salman tampak dari luar
Sampai sekarang menu-menu favorit saya masih ada di sana yaitu telur dadar gulung, ayam goreng tepung, pecel, tempe goreng tepung, soto ayam, dan lain-lain. Tentu sudah banyak menu-menu baru yang mengindonesia sehingga rasanya tidak lagi dominan Jawa.
Agar anda bisa menilai seberapa murah makan di Kantin Salman, menu makan siang yang saya pilih untuk dibungkus adalah nasi satu porsi, satu potong ayam goreng tepung (dada), sayur tahu, sambal, buah pisang dan buah semangka, semuanya hanya Rp8.500 rupiah saja. Relatif murah untuk ukuran makan di seputaran kampus dengan menu sejenis itu.
Meskipun berada di lingkungan Masjid Salman, namun mahasiswa yang makan di sana siapa saja, baik yang muslim atau bukan, baik suku jawa, sunda, minang, batak atau etnis cina. Alasan mengapa banyak orang makan di sana tak lain karena hal-hal yang saya sebutkan di atas: murah, sehat, dan variatif. Hingga kini kantin Salman tetap eksis dan menjadi andalan mahasiswa perantauan.
Itu Bukan Urusan Saya
Ada sebuah restoran kecil yang baru buka. Karena lahan yang kecil maka dia menyiapkan tempat parkir yang hanya cukup untuk dua mobil. Padahal restorannya bisa menampung delapan meja untuk masing-masing empat orang. Jadi sedikitnya dia dapat menampung tiga puluh dua orang.
Apa yang terjadi? Akhirnya banyak orang yang parkir di luar tempat parkir yang di sediakan. Orang parkir di bahu jalan. Maka mulailah terjadi sedikit kemacetan ketika jam makan.
Apa yang ada dalam benak pemilik restoran? Apakah dia merasa bertanggungjawab terhadap kemacetan yang ditimbulkan? Ternyata tidak. Dia merasa bahwa dia tidak salah. Saya kan hanya membuka restoran saja. Yang salah adalah yang parkir. Itu bukan salah saya. Nah lho. Apakah dia tidak berpikir bahwa hanya menyediakan tempat parkir untuk dua mobil itu sudah melepaskan tanggungjawabnya? Bahkan ada yang berkata, masih untung saya masih menyediakan tempat parkir pak. Ada banyak usaha lain yang malah tidak menyediakan tempat parkir. Hadoh.
Kita bisa menggantikan “restoran” dengan bentuk usaha lainnya, “toko baju”, “outlet”, “mini market”, “super market”, “kantor”, dan seterusnya. Kejadian di atas sama validnya. Ketika kita menyediakan sebuah layanan, maka kita harus memperhatikan efeknya terhadap lingkungan di sekitarnya?
Filed under: Curhat Tagged: postaday2012